Rabu, 10 Juni 2015

CERITA PENDEK (CERPEN)



Senja hari. Wajah lelaki tua itu tampak semakin gelisah. Guratan di dahi dan tatap mata yang sedemikian sayu, menyiratkan beratnya beban dan gejolak di dalam dadanya.
Lelaki itu masih termenung. Di kejauhan, di atas cahaya perak mentari senja yang tersaput awan, Pak Dirdjo, lelaki tua itu, semakin melihat serius bayangan kehidupannya. Sejarah perjalanan hidupnya yang terentang enam puluh tahun lamannya, tergambar jelas di sana. Berhiaskan bunga-bunga harapan, sebelum ajal menjemputnya.
Harapan yang wajar dalam sisa usianya waktu itu, hanyalah kehadiran seorang cucu, yang kelak diharapkan dapat meneruskan generasinya. Namun harapan yang ternyata tak lebih dari sebuah obsesi yang mustahil terwujud. Terutama ketika Purwito, anak sulungnya, tak juga mampu menghadiahkan seorang cucu kepadanya. Terlebih lagi dengan keputusan Purwito yang dianggap meminggirkan keinginan Pak Dirdjo selaku ayah kandungnya sendiri.
Di saat Pak Dirdjo mengharap Purwito mencari istri baru demi sebuah keturunan lantaran istri pertamanya tak mampu memberinya keturunan, Purwito justru mengangkat anak dari sebuah panti asuhan. Pak Dirdjo terpaksa menelan kekecewaan. Kini, harapan untuk memperoleh cucu dari Purwito mustahil kesampaian.
Kemudian, harapan Pak Dirdjo pada anaknya nomer dua, Astuti. Waktu itu Astuti telah memiliki pacar. Yang menurutnya pantas masuk dalam lingkungan priyayi. Kepada Astuti dan Pramono lah, waktu itu Pak Dirdjo menambatkan harapannya untuk terciptanya sebuah benih generasi baru.
Akan tetapi, takdir rupanya menghendaki lain. Sebuah kecelakaan merenggut nyawa Astuti dari hadapan sang ayah. Perasaan pak Dirdjo  remuk redam. Ia kehilangan satu harapan yang sangat berharga. Sepercik angan indah yang mulai tumbuh, pupuslah sudah. Putri yang diharapkan menghadirkan pemegang estafet generasi keluarganya telah tiada.
Kini, satu-satunya yang masih bisa diharapkan hanyalah Sawitri, putri bungsunya yang bekerja disebuah kantor perpajakan, dan menetap di jakarta. Namun sayang, sampai sekian tahun Sawitri belum juga punya punya niat untuk menikah. Hati Pak Dirdjo menjadi galau. Lagi pula, waktu dan jarak telah begitu jauh memisahkan mereka.
“Sawitri,” kata Pak Dirdjo suatu ketika, “Ingatlah, makin lama usiamu itu makin bertambah saja ....,” Pak Dirdjo membuka sebuah percakapan.
Sawitri diam. Ia hafal benar dengan jurus pembukaan yang sering digunakan ayahnya. Apapun pembicaraannya, toh paling-paling hanya akan berakhir pada bujukan pada dirinya untuk menikah. Suatu pembicaraan yang tidak ia sukai.
“Heh, lagi-lagi soal itu, Ayah,” desis Sawitri. “Kenapa ayah selalu direpotkan oleh sekadar sebuah perkawinan?”
“Sawitri. Kau belum pernah merasakan jadi orang tua. Betapa sepinya orang tua seperti ayah ini, jika tanpa menimang seorang cucu pun. Lagi pula, keluarga kita kan membutuhkan seorang penerus. Ayah yakin, hanya kau yang mampu memenuhi keinginan ayah,” ujar pak Dirdjo dengan suara berat.
“Lho, bukankah Ayah sudah punya cucu dari Mas Purwito?”tanya Sawitri penasaran.
Pak Dirdjo menatap lekat-lekat puterinya.
“Sawitri. Kau tau arti seorang cucu sejati dari darah daging keluarga kita sendiri? Kakakmu tak mampu memenuhi harapan ayah. Anak tak tahu balas budi. Sok sosial. Huh!” Tampak sekali guratan kemarahan di wajah Pak Dirdjo.
“Ayah!” potong Sawitri cepat dan menatap ayahnya tak mengerti. “Kenapa Ayah berkata begitu?”
Pak Dirdjo menatap lurus ke depan. Terdiam beberapa saat.
“Huh! Anak mbarep, tak bisa diatur. Tak bisa menjadi contoh!” Pak Dirdjo masih saja menggerutu.
“Ayah tak ingin dikecewakan untuk ketiga kalinya.” Oleh karena itu, Pak Dirdjo menoleh, lalu menatap tajam puterinya. “Ayah telah putuskan sesuatu,”ujar Pak Dirdjo mantap.
“Tentang apa?”
“Pernikahan.”
“Ayah mau menikah lagi?” tanya Sawitri terheran-heran.
“Sawitri! Jangan bercanda. Ayah serius telah putuskan. Bulan depan kau akan menikah.”
“Ayah yang bercanda! Ayah sendiri tahu, aku masih ingin meniti karir.”
“Sawitri, sekali lagi jangan membantah ayah. Undangan pernikahan sudah saya sebar.”
“Apa?” Bagai disambar petir disiang bolong Sawitri mendengarnya. “Tidak salahkah keputusan Ayah?”
Pak Dirdjo menggeleng pelan.
“Itu sudah keputusan Ayah. Ayah tak ingin kehilangan satu kesempatan lagi.”satu vonis sepihak benar-benar menghantam dada Sawitri.
“Oohh ... Ayah kejam! Ayah kejam!” Sawitri berteriak-teriak menangis, lalu berlari meninggalkan ayahnya.
Senja hari. Lelaki tua itu tergagap dari lamunan. Dari kamar tengah terdengar tangis seorang bocah kecil. Seorang bocah dari darah dagingnya sendiri, dari rahim Sawitri, putrinya. Seorang bocah yang dulu menjadi tumpuan harapan untuk memegang tongkat estafet keluarga terhormat Dirdjo Puspito. Namun kini justru mengendapkan segudang penyesalan di dada tuanya.
Entah bagaimana sebabnya, anak itu ternyata terlahir cacat. Kedua kakinya lumpuh tak berdaya sejak lahir.
Kedua belah pipi keriput itu perlahan-lahan mulai membasah. Sawitri yang sedari tadi duduk menemani ayahnya berusaha menekan perasaan sekuat mungkin. Ia mencoba menguatkan diri menatap wajah ayahnya. Tampak senja semakin muram di wajah tua itu. Sawitri merasa terpukul. Ia mencoba mencari-cari, masih adakah harapan di mata ayahnya?
Angin senja menerpa. Warna perak mentari senja kian hari menghitam tersaput mendung.
“Ayah, ayo segera ke dalam. Angin malam tidak baik untuk kesehatan ayah.” Sawitri beranjak, lalu perlahan-lahan memapah, menuntun ayahnya berjalan. Ingin Sawitri berkata kepada sang Ayah” Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Namun Sawitri hanya bisa menahannya dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar