Rabu, 10 Juni 2015

SANTRI KENCINGI KYAI

Kisah 30 Tahun Silam

Ketika itu jam menunjukkan waktu subuh. Seperti biasanya para santri dibangunkan dari tidurnya dan masyarakat sekitar berduyun-duyun hendak menunaikan sholat subuh ketika adzan terdengar.

Kala itu penerangan masih tradisional yaitu menggunakan lampu ublik, itupun jika minyak tanahnya ada. Jika tidak jedingpun teramat gelap. Siapapun jika hendak berwudhu menggunakan indera ke 6, 7, 8 dan seterusnya (kebiasaan maksutnya).

Bersama-sama wudhu dilakukan di Masjid, bahkan mbahkupun selaku Imam Masjid berwudhu di jedingan itu. Tentu mbahkulah yang kroso pipis pertama dan dihajatkan di jedingan itu. Salah satu santri yang bangun pertama diantara santri-santri yang lainnya bernama Joni dengan mata melek merem ngeloyor menuju jedingan itu yang juga hendak buang pipis.

Tanpa sengaja pipis yang diturkan mengenai bahu mbahku itu. Karena mbahku juga sedang melakukan hajat yang sama, hanya yang membedakan adalah si Joni pipis dengan berdiri sementara mbahku pipis dengan duduk. Aku mendengar waktu itu si mbahku nggremeng, "Sopo to iki nguyuhi ghegherku iki". Dengan kagetnya mendengar suara khas mbahku itu si Joni dengan otomatis pancurannya berhenti ngeturnya. Lantas mak whet mblayu keluar dari jedingan itu.

Entah tak tau apakah si Joni langsung pulang atau kemana yang jelas saat itu sholat subuh agak terlambat karena mbahku harus ados krono najise santri koplak itu. Sof lowong satu orang saat sholat dimulai oleh karena si Joni tidak ada dibarisan itu. Keesokan harinya dari insiden itu dikumpulkanlah segenap santri untuk ditanyai satu persatu. Si Joni dengan tegas mengatakan bahwa dirinyalah yang mipisi mbah yai itu, dengan alasan "Lha aku gak ngerti kok nek mbah yai ndek jeding". Semua lantas ngguyu nyekikik dengan tidak berani banter karena tak lain adalah si Joni itu yang biasa mijeti mbahku. Sebagai putu akupun ngguyu nyekiakak dewe yang tak seorang santripun berani ngloroi guyuku.

#Pesan moral; Jika hendak buang hajat (apapun) jangan pecicilan. Lihat keadaan sekitar meski kini sudah ada listrik dan dengan duduklah sebagaimana yang diajarkan nabi. Dengan begitu ngetur kita akan aman, selamat hingga tetes terakhir#

Tidak ada komentar:

Posting Komentar