Kisah 30 Tahun Silam
Ketika
itu jam menunjukkan waktu subuh. Seperti biasanya para santri dibangunkan dari
tidurnya dan masyarakat sekitar berduyun-duyun hendak menunaikan sholat subuh
ketika adzan terdengar.
Kala
itu penerangan masih tradisional yaitu menggunakan lampu ublik, itupun jika
minyak tanahnya ada. Jika tidak jedingpun teramat gelap. Siapapun jika hendak
berwudhu menggunakan indera ke 6, 7, 8 dan seterusnya (kebiasaan maksutnya).
Bersama-sama
wudhu dilakukan di Masjid, bahkan mbahkupun selaku Imam Masjid berwudhu di
jedingan itu. Tentu mbahkulah yang kroso pipis pertama dan dihajatkan di
jedingan itu. Salah satu santri yang bangun pertama diantara santri-santri yang
lainnya bernama Joni dengan mata melek merem ngeloyor menuju jedingan itu yang
juga hendak buang pipis.
Tanpa
sengaja pipis yang diturkan mengenai bahu mbahku itu. Karena mbahku juga sedang
melakukan hajat yang sama, hanya yang membedakan adalah si Joni pipis dengan
berdiri sementara mbahku pipis dengan duduk. Aku mendengar waktu itu si mbahku
nggremeng, "Sopo to iki nguyuhi ghegherku iki". Dengan kagetnya
mendengar suara khas mbahku itu si Joni dengan otomatis pancurannya berhenti
ngeturnya. Lantas mak whet mblayu keluar dari jedingan itu.
Entah
tak tau apakah si Joni langsung pulang atau kemana yang jelas saat itu sholat
subuh agak terlambat karena mbahku harus ados krono najise santri koplak itu.
Sof lowong satu orang saat sholat dimulai oleh karena si Joni tidak ada
dibarisan itu. Keesokan harinya dari insiden itu dikumpulkanlah segenap santri
untuk ditanyai satu persatu. Si Joni dengan tegas mengatakan bahwa dirinyalah
yang mipisi mbah yai itu, dengan alasan "Lha aku gak ngerti kok nek mbah
yai ndek jeding". Semua lantas ngguyu nyekikik dengan tidak berani banter
karena tak lain adalah si Joni itu yang biasa mijeti mbahku. Sebagai putu
akupun ngguyu nyekiakak dewe yang tak seorang santripun berani ngloroi guyuku.
#Pesan
moral; Jika hendak buang hajat (apapun) jangan pecicilan. Lihat keadaan sekitar
meski kini sudah ada listrik dan dengan duduklah sebagaimana yang diajarkan
nabi. Dengan begitu ngetur kita akan aman, selamat hingga tetes terakhir#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar