Senja
hari. Wajah lelaki tua itu tampak semakin gelisah. Guratan di dahi dan tatap
mata yang sedemikian sayu, menyiratkan beratnya beban dan gejolak di dalam
dadanya.
Lelaki
itu masih termenung. Di kejauhan, di atas cahaya perak mentari senja yang
tersaput awan, Pak Dirdjo, lelaki tua itu, semakin melihat serius bayangan
kehidupannya. Sejarah perjalanan hidupnya yang terentang enam puluh tahun
lamannya, tergambar jelas di sana. Berhiaskan bunga-bunga harapan, sebelum ajal
menjemputnya.
Harapan
yang wajar dalam sisa usianya waktu itu, hanyalah kehadiran seorang cucu, yang
kelak diharapkan dapat meneruskan generasinya. Namun harapan yang ternyata tak
lebih dari sebuah obsesi yang mustahil terwujud. Terutama ketika Purwito, anak
sulungnya, tak juga mampu menghadiahkan seorang cucu kepadanya. Terlebih lagi
dengan keputusan Purwito yang dianggap meminggirkan keinginan Pak Dirdjo selaku
ayah kandungnya sendiri.
Di
saat Pak Dirdjo mengharap Purwito mencari istri baru demi sebuah keturunan lantaran
istri pertamanya tak mampu memberinya keturunan, Purwito justru mengangkat anak
dari sebuah panti asuhan. Pak Dirdjo terpaksa menelan kekecewaan. Kini, harapan
untuk memperoleh cucu dari Purwito mustahil kesampaian.
Kemudian,
harapan Pak Dirdjo pada anaknya nomer dua, Astuti. Waktu itu Astuti telah
memiliki pacar. Yang menurutnya pantas masuk dalam lingkungan priyayi. Kepada
Astuti dan Pramono lah, waktu itu Pak Dirdjo menambatkan harapannya untuk
terciptanya sebuah benih generasi baru.
Akan
tetapi, takdir rupanya menghendaki lain. Sebuah kecelakaan merenggut nyawa
Astuti dari hadapan sang ayah. Perasaan pak Dirdjo remuk redam. Ia kehilangan satu harapan yang
sangat berharga. Sepercik angan indah yang mulai tumbuh, pupuslah sudah. Putri
yang diharapkan menghadirkan pemegang estafet generasi keluarganya telah tiada.
Kini,
satu-satunya yang masih bisa diharapkan hanyalah Sawitri, putri bungsunya yang
bekerja disebuah kantor perpajakan, dan menetap di jakarta. Namun sayang,
sampai sekian tahun Sawitri belum juga punya punya niat untuk menikah. Hati Pak
Dirdjo menjadi galau. Lagi pula, waktu dan jarak telah begitu jauh memisahkan
mereka.
“Sawitri,”
kata Pak Dirdjo suatu ketika, “Ingatlah, makin lama usiamu itu makin bertambah
saja ....,” Pak Dirdjo membuka sebuah percakapan.
Sawitri
diam. Ia hafal benar dengan jurus pembukaan yang sering digunakan ayahnya.
Apapun pembicaraannya, toh paling-paling hanya akan berakhir pada bujukan pada
dirinya untuk menikah. Suatu pembicaraan yang tidak ia sukai.
“Heh,
lagi-lagi soal itu, Ayah,” desis Sawitri. “Kenapa ayah selalu direpotkan oleh
sekadar sebuah perkawinan?”
“Sawitri.
Kau belum pernah merasakan jadi orang tua. Betapa sepinya orang tua seperti
ayah ini, jika tanpa menimang seorang cucu pun. Lagi pula, keluarga kita kan
membutuhkan seorang penerus. Ayah yakin, hanya kau yang mampu memenuhi
keinginan ayah,” ujar pak Dirdjo dengan suara berat.
“Lho, bukankah Ayah sudah punya cucu dari Mas Purwito?”tanya
Sawitri penasaran.
Pak
Dirdjo menatap lekat-lekat puterinya.
“Sawitri.
Kau tau arti seorang cucu sejati dari darah daging keluarga kita sendiri?
Kakakmu tak mampu memenuhi harapan ayah. Anak tak tahu balas budi. Sok sosial.
Huh!” Tampak sekali guratan kemarahan di wajah Pak Dirdjo.
“Ayah!”
potong Sawitri cepat dan menatap ayahnya tak mengerti. “Kenapa Ayah berkata
begitu?”
Pak
Dirdjo menatap lurus ke depan. Terdiam beberapa saat.
“Huh!
Anak mbarep, tak bisa diatur. Tak
bisa menjadi contoh!” Pak Dirdjo masih saja menggerutu.
“Ayah
tak ingin dikecewakan untuk ketiga kalinya.” Oleh karena itu, Pak Dirdjo
menoleh, lalu menatap tajam puterinya. “Ayah telah putuskan sesuatu,”ujar Pak
Dirdjo mantap.
“Tentang
apa?”
“Pernikahan.”
“Ayah
mau menikah lagi?” tanya Sawitri terheran-heran.
“Sawitri!
Jangan bercanda. Ayah serius telah putuskan. Bulan depan kau akan menikah.”
“Ayah
yang bercanda! Ayah sendiri tahu, aku masih ingin meniti karir.”
“Sawitri,
sekali lagi jangan membantah ayah. Undangan pernikahan sudah saya sebar.”
“Apa?”
Bagai disambar petir disiang bolong Sawitri mendengarnya. “Tidak salahkah
keputusan Ayah?”
Pak
Dirdjo menggeleng pelan.
“Itu
sudah keputusan Ayah. Ayah tak ingin kehilangan satu kesempatan lagi.”satu vonis
sepihak benar-benar menghantam dada Sawitri.
“Oohh
... Ayah kejam! Ayah kejam!” Sawitri berteriak-teriak menangis, lalu berlari
meninggalkan ayahnya.
Senja
hari. Lelaki tua itu tergagap dari lamunan. Dari kamar tengah terdengar tangis
seorang bocah kecil. Seorang bocah dari darah dagingnya sendiri, dari rahim
Sawitri, putrinya. Seorang bocah yang dulu menjadi tumpuan harapan untuk
memegang tongkat estafet keluarga terhormat Dirdjo Puspito. Namun kini justru
mengendapkan segudang penyesalan di dada tuanya.
Entah
bagaimana sebabnya, anak itu ternyata terlahir cacat. Kedua kakinya lumpuh tak
berdaya sejak lahir.
Kedua
belah pipi keriput itu perlahan-lahan mulai membasah. Sawitri yang sedari tadi
duduk menemani ayahnya berusaha menekan perasaan sekuat mungkin. Ia mencoba
menguatkan diri menatap wajah ayahnya. Tampak senja semakin muram di wajah tua
itu. Sawitri merasa terpukul. Ia mencoba mencari-cari, masih adakah harapan di
mata ayahnya?
Angin
senja menerpa. Warna perak mentari senja kian hari menghitam tersaput mendung.
“Ayah,
ayo segera ke dalam. Angin malam tidak baik untuk kesehatan ayah.” Sawitri
beranjak, lalu perlahan-lahan memapah, menuntun ayahnya berjalan. Ingin Sawitri
berkata kepada sang Ayah” Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Namun
Sawitri hanya bisa menahannya dalam hati.