Senin, 18 Mei 2015

MEMBANGUN RASA PD



Perasaan Takut

Kiranya semua orang memiliki rasa takut. Hanya saja tingkatannya  berbeda-beda. Ada sementara orang yang  amat penakut. Dengan apa saja mereka takut, hingga  keluar rumah dalam keadaan gelap saja tidak berani. Sebaliknya, ada orang yang disebut pemberani. Terhadap hal-hal tertentu saja perasaan takutnya muncul.   Perasaan takut tidak bisa dihilangkan sama sekali, sekalipun yang bersangkutan sudah tua.
Lawan dari perasaan takut adalah pemberani. Seorang pemberani tidak mudah takut dengan sesuatu yang dianggap  berbahaya. Orang yang berjiwa  pemberani biasanya memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dengan siapapun, orang pemberani merasa mampu menghadapi.  Mereka tidak memiliki perasaan was-was, atau takut dikalahkan.
Sebenarnya perasaan  takut terehadap sesuatu tidak ada gunanya. Perasaan takut  sebenarnya hanya boleh ditujukan terhadap Tuhan. Selain itu, manusia tidak perlu takut dengan siapapun. Munculnya rasa takut hanya pertanda bahwa yang bersangkutan memiliki jiwa kecil, rendah,  dan merasa menyandang banyak kekurangan.
Rasa takut itu sebenarnya  membahayakan. Orang yang selalu ragu terhadap apa saja, termasuk tatkala mengambil keputusan, maka menunjukkan bahwa yang bersangkutan dihantui oleh rasa takut itu. Oleh karena itu, perasaan rendah diri,  perasaan  bersalah, dan atau perasaan memiliki  kekurangan,  harus segera dihilangkan, agar perasaan takut pada dirinya itu segera hilang.
Sebaliknya, seseorang harus  membangun percaya diri.  Seseorang yang  telah melakukan kesalahan atau kekeliruan, maka harus segera saja meminta maaf. Andaikan  kesalahan itu terhadap Tuhan, maka harus segera beristighfar. Sebab  perasaan salah atau dirinya serba kekurangan  akan  menjadikan yang bersangkutan  memiliki sifat rendah diri, peragu,  dan merasa takut.
Perasaan takut yang berlebihan pada diri seseorang akan menganggu dirinya sendiri. Seseorang yang peragu, tidak percaya pada diri sendiri, maka akibatnya  hanya sebatas berpidato di muka umum saja menjadi gemetar, takut  disalahkan, kekurangan bahan, atau pidatonya dianggap tidak menarik.
Oleh karena itu perasaan takut itu harus dihilangkan. Rasulullah, Muhammad saw., menganjurkan agar seseorang memiliki keberanian. Bahkan sifat berani dipandang sebagai bagian dari keimanan seseorang.  Seorang muslim tidak selayaknya memelihara perasaan takut kepada semua hal, kecuali terhadap Allah swt.
Apalagi,  seorang pemimpin. Pemimpin harus memiliki sifat pemberani. Pemimpin yang berjiwa penakut, maka tatkala mengambil keputusan tidak akan tepat. Oleh karena ketakutannya itu, maka tatkala mengambil keputusan hanya akan  berorientasi agar dirinya selamat. Pada hal yang utama bagi seorang pemimpin adalah harus menyelamatkan bagi semua yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya, yaitu agar dirinya dan kelompoknya saja yang selamat. Wallahu a’lam.

MOTIVASI



Menjadi Orang Besar


Bagaimana menjadi orang besar. Orang besar yang dimaksud  itu adalah mereka  yang memiliki berbagai kelebihan,  misalnya  pengaruh yang luas, ilmu yang dibutuhkan  oleh banyak orang, dan menjadi tauladan bagi masyarakat luas. 
Memang semua orang menginkan agar keberadaan dirinya menjadi dianggap penting oleh banyak orang. Akan tetapi tidak semua orang  berhasil meraih posisi yang membanggakan itu. Bahkan juga banyak orang tidak tahu bagaimana jalan yang harus ditempuh untuk meraih posisi tersebut.
Selain itu dalam kenyataannya  tidak banyak orang yang dipandang sebagai orang besar. Padahal sebenarnya,  keinginan menjadi orang besar  tidak  sulit diraih.  Posisi itu  terbuka bagi siapapun  yang memang menghendakinya.  
Disebut sebagai orang besar biasanya diukur dari seberapa luas yang bersangkutan  dikenal dan berhasil  memberi sesuatu kepada orang lain. Sebaliknya seseorang disebut sebagai orang kecil hanya karena apa yang dipikirkan dan dilakukan terbatas untuk kepentingan dirinya sendiri dan  keluarganya.
Jika ukurannya adalah seperti disebutkan itu, maka semua orang berpotensi atau terbuka untuk bisa menjadi orang besar.  Disebut sebagai orang besar, manakala seseorang memiliki kelebihan-kelebihan sebagai berikut. Pertama,  bahwa orang dimaksud dalam hidupnya selalu memikirkan dan berbuat untuk melapangkan  orang lain. Mereka tidak mau hanya berpikir dan melakukan sesuatu untuk kepentingan dirinya sendiri.
Kedua, bahwa orang besar mampu  berpikir jangka panjang. Mereka tidak saja memikirkan kebutuhan hari ini atau  sekarang,  tetapi selalu berpikir tentang kebutuhan jauh ke depan. Oleh karena itu, orang besar tidak pernah gagap tatkala menghadapi sesuatu persoalan, oleh karena apa yang dialami itu telah diperhitungkan dan atau diprediksi jauh sebelumnya.
Ketiga, orang besar biasanya berani berkorban dan menanggung resiko atas keputusan-keputusan yang diambilnya. Banyak orang merasa takut  menghadapi resiko dan atau tidak mau berkorban untuk orang lain. Mereka hanya mau menerima, tetapi sebaliknya,  tidak mau memberikan sesuatu kepada orang lain. Orang besar tidak pernah memiliki sifat pelit.
Keempat, orang besar mampu menjaga diri agar  bisa dipercaya dan mau mempercayai orang lain.  Mereka sanggup mengemban amanah dan juga mau memberikan kepercayaan kepada orang lain. Orang yang selalu tidak percaya terhadap orang lain, maka apa saja akan ditangani sendiri. Orang seperti itu pertanda, bahwa jiwanya adalah kecil.
Kelima, orang besar selalu berusaha bagaimana agar orang lain mendapatkan keuntungan, menjadi lebih mudah, merasa aman, dan dilapangkan atau dihilangkan apa saja yang menjadi rintangannya. Kegembiraan orang besar tatkala melihat orang lain bergembira dan mendapatkan keuntungan dan bukan sebaliknya.
Selain yang disebutkan itu, tentu masih banyak ciri-ciri   lainnya sebagai sosok orang yang disebut sebagai orang besar, misalnya mudah memberi maaf atas kesalahan orang lain, mau menghargai prestasi seseorang,  berani mengakui atas kekeliruan dan  kesalahan yang diperbuatnya dan selanjutnya meminta maaf dan  lain-lain.
Kesimpulannya bahwa sebenarnya kebesaran seseorang adalah terletak di hati atau jiwa yang bersangkutan. Seseorang yang memiliki jiwa dan hati besar, maka akan mampu menampung dan menyelesaikan berbagai macam kebutuhan, keinginan,  dan harapan orang lain.
Oleh karena itu kebesaran seseorang sebenarnya  terletak pada pikiran, jiwa dan  hati  yang bersangkutan. Siapapun orangnya yang selalu berusaha untuk memberi manfaat bagi orang lain, maka mereka itu telah menduduki posisi terbaik, dan pantas disebut  sebagai orang besar, di manapun mereka berada, kapan,  dan apapun jabatan atau posisi yang ditempati. Wallahu a’lam.   

PERSPEKTIF

Islam dan Pendidikan Karakter
Seringkali terdengar protes atau setidaknya rasa kesal dari kalangan masyarakat, bahwa mengapa orang yang sehari-hari menunaikan ibadah shalat, zakat, puasa, dan bahkan pernah menunaikan ibadah haji, tetapi perilakunya belum  menggambarkan makna dari kegiatan ritual tersebut.  Lantas disimpulkan  bahwa,  ibadah ritual tidak selalu memberi dampak pada perilaku terpuji sehari-hari. Selain itu, seringkali terdengar ungkapan  pula bahwa pada setiap tahun jama’ah haji meningkat, akan tetapi kasus-kasus korupsi tidak pernah surut. Bahkan, banyak pejabat  yang berhaji dan umrah berkali-kali, tetapi perilaku korupnya tidak bisa berhenti.
Gambaran sebagaimana dikemukakan itu menunjukkan bahwa seolah-olah antara kegiatan ritual terpisah dari kegiatan lain sehari-hari yang lebih luas. Pertanyaannya adalah,  adakah  yang salah dari pemahaman Islam selama ini. Sudah banyak orang mengenalnya, bahwa Islam selalu  mengajarkan tentang kejujuran, amal shaleh, menghargai sesama, disiplin waktu dan juga harus benar  dalam mendapatkan rizki. Seorang Islam tidak diperkenankan mengambil harta milik orang lain tanpa hak. Untuk mendapatkan harta, seorang muslim harus selektif, yaitu yang halal lagi baik dan membawa berkah.
Sebenarnya misi rasulullah yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Maka artinya, seorang mulim dalam melakukan apa saja harus didasari oleh akhlak mulia itu. Dalam berekonomi, politik,  mengembangkan pendididikan, hukum, bermasyarakat  dan lain-lain harus didasarkan pada akhlak yang luhur. Selalu dibayangkan bahwa,  tidak akan mungkin seorang muslim melakukan sesuatu yang  bertentangan dengan keyakinannya itu.
Namun sementara ini yang seringkali terjadi, bahwa masih terdapat pemisahan yang sedemikian tajam antara persoalan agama dan  persoalan kehidupan lain pada umumnya. Agama dianggap sebagai variabel tersendiri, terpisah dari kegiatan kehidupan  pada umumnya. Maka yang lahir adalah kehidupan pribadi yang tidak utuh. Seolah-olah antara ke pasar sebagai upaya mencari rizki dianggap berbeda dari ketika ke masjid untuk shalat berjama’ah. Ke masjid dianggap mencari bekal ke akherat, sementara ke pasar dianggap untuk mendapatkan rizki untuk mencukupi kegiatan di dunia.
Cara berpikir dikotomis seperti itulah kira-kira yang menjadikan Islam tidak dipandang sebagai ajaran yang utuh dan komprehensif hingga melahirkan perilaku yang terbelah itu. Maka akibatnya,  antara kegiatan ritual dan kegiatan sosial menjadi tidak  menyatu. Akibatnya kemudian muncul  istilah shaleh ritual, shaleh  sosial dan shaleh  intelektual. Perbedaan-perbedaan itu pula yang  seolah-olah  ajaran Islam bisa dipilah-pilah seperti itu.
Lewat renungan yang lama dan mendalam, saya mendapatkan rumusan bahwa Islam sedikitnya membawa lima misi besar untuk mengantarkan ummat manusia agar menjadi selamat dan sekaligus bertbahagia, baik di dunia maupun  di akherat. Saya memandang bahwa Islam bukan sebatas agama, melainkan juga peradaban.  Islam sebenarnya sebuah ajaran yang memiliki   kekuatan pengubah dan sekaligus memberikan petunjuk dan arah,  agar manusia dalam hidupnya  mendapatkan derajat mulia. Orang  yang demikian itu adalah memiliki karakter yang unggul.  Dengan demikian, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad bahwa, Islam datang di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia atau karakter yang unggul.
Adapun kelima misi besar yang dibawa oleh Islam itu adalah sebagai berikut. Pertama, Islam menjadikan ummatnya kaya ilmu. Ilmu yang dimaksudkan di sini lingkupnya sangat luas, yaitu bersumber pada ayat-ayat qawliyah dan sekaligus ayat-ayat kawniyah. Islam menganjurkan ummatnya untuk mempercayai yang ghaib, tetapi juga harus memikirkan ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Mestinya sebagai implementasi dari konsep itu,  kaum  muslimin dituntut   mengkaji ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain. Dalam mempelajari ilmu ilmu dimaksud, sebagai pembeda dari kaum lainnya,  harus  mengawali dengan menyebut nama Allah, yaitu bismirabbika. Selain itu, kegiatan tersebut harus sampai pada kesadaran yang mendalam tentang keagungan asma Allah. Disebutkan  dalam al Qur’an  iqra’ warabbuka al-akram. Artinya kegiatan itu hingga berhasil  membangun  kesadaran tentang  keharusan memuliakan Allah. Dengan demikian mestinya, ummat Islam  kaya ilmu pengetahuan.
Kedua, Islam  menjadikan ummatnya meraih prestasi unggul. Sebagai makhluk yang berprestasi unggul, setidak-tidaknya memiliki empat ciri, yaitu (1) berhasil mengenal dirinya sebagai pintu mengenal tuhannya, (2) bisa dipercaya sebagaimana dicontohkan oleh  Muhammad sebagai anutannya adalah seorang yang dikaruniai gelar al amien, (3) bersedia untuk mensucikan dirinya, baik menyangkut pikirannya, hatinya dan raganya. Seorang muslim tidak selayaknya mengambil harta atau mengkonsumsi makanan yang tidak halal, dan (4) seorang muslim  di manapun berada selalu memberi manfaat bagi orang lain. Itulah manusia unggul yang diajarkan oleh Islam.
Ketiga, Islam membangun tatanan sosial yang adil di tengah-tengah masyarakat manapun. Keadilan dalam Islam dianggap sebagai sesuatu yang harus diwujudkan. Terdapat banyak sekali ayat-ayat al Qur’an yang memerintahkan ummatnya agar berbuat adil. Bahwa sebelum nabi Muhammad diutus sebagai rasul, masyarakat Arab terdiri atas kabilah atau suku-suku yang beraneka ragam. Antar suku saling berebut sumber-sumber ekonomi, pengaruh atau kekuasaan. Mereka yang kuat akan memenangkan  perebutan itu, hingga menguasai sumber-sumber kebutuhan hidup.
Dalam perebutan itu,  mereka yang kalah, yaitu rakyat biasa bukannya ditolong melainkan justru  ditindas dan bahkan dijadikan budak. Perbudakan sebagai sumber ketidak adilan ketika itu,  berkembang luar biasa.  Orang disamakan dengan binatang, yaitu dijual belikan di pasar-pasar. Harkat dan martabat manusia menjadi tidak ada harganya, sebagai akibat nafsu berkuasa dan menguasai sumber-sumber ekonomi itu. Dalam kondisi seperti itu,  Nabi Muhammad datang untuk membangun tatanan sosial yang adil dan bermartabat itu.
Keempat, Islam memberikan tuntunan tentang bagaimana kegiatan ritual  seharunya dilakukan oleh setiap muslim. Kegiatan ritual yang dimaksudkan  itu,   seperti berdzikir, shalat, puasa, haji dan lain-lain-lain. Kegiatan itu sangat penting untuk membangun kekuatan spiritual bagi mereka yang menjalankannya.  Melalui kegiatan ritual itu, maka terbangun komunikasi antara manusia  dengan Dzat Yang Maha Pencipta. Dengan kegiatan ritual itu pula maka terbangun sikap mulia seperti rendah hati, sabar, ikhlas, amanah, peduli sesama, saling mencintai dan lain-lain.
Kegiatan ritual dalam Islam sedemikian penting, sehingga untuk mendapatkan kesempurnaannya menjadikan banyak orang berdebat tentang bagaimana kegiatan ritual itu dijalankan secara tepat.  Maksudnya adalah baik, agar kegiatan yang dilakukan persis sama dengan yang dilakukan oleh Rasulullah. Namun keinginan  yang berlebihan itu, menjadikan  banyak pihak rela berdebat dan bahkan bertikai sehingga mengakibatkan ummat berpecah belah  menjadi berbagai aliran atau kelompkim untuk mencari cara yang paling tepat dalam menjalankan kegiatan ritual itu.   Berbagai aliran dan organisasi sosial keagamaan yang ada di mana-mana adalah selalu  terkait dengan  perbedaan-perbedaan dalam menjalankan kegiatan ritual.
Padahal sebenarnya,  perbedaan dalam kegiatan ritual sudah ada atau telah terjadi sejak zaman  Rasulullah. Perbedaan itu ternyata juga terjadi dalam berbagai kasus. Misalnya,  dalam pelaksanaan shalat. Sementara sahabat merasa cukup, shalat dengan tayammum tatkala tidak ada air.  Namun sahabat lain  berpandangan bahwa harus disempurnakan lagi tatkala ditemukan air. Perbedaan juga terkait dengan pelaksanaan ibadah haji, dan  lain-lain.  Setiap menghadapi persoalan yang terkait dengan perbedaan pelaksanaan ritual itu, nabi selalu bersikap arif, yaitu mengedepankan persatuan. Jika ada perbedaan, Nabi membenarkan apa yang telah dilakukan oleh para sahabatnya. Dengan cara itu maka,  persatuan dan kesatuan di antara para sahabat selalu berhasil dipelihara.
Kelima, adalah konsep amal shaleh. Amal secara sederhana bisa diartikan bekerja, sedangkan shaleh artinya adalah lurus, benar, tepat atau sesuai. Maka amal shaleh sebenarnya bisa diartikan,  bekerja secara profesional.  Dengan beramal shaleh maka artinya adalah  bahwa setiap perbuatan kaum muslimin harus dilakukan secara baik, sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Suatu pekerjaan yang ditangani secara profesional akan mendatangkan hasil maksimal.
Umpama misi Islam itu berhasil diimplementasikan oleh ummatnya, sehingga ummat Islam menjadi kaya ilmu, meraih pribadi unggul, berada pada tatanan sosial yang adil, menjalankan kegiatan ritual secara sempurna untuk membangun spiritual dan pekerjaan selalu ditunaikan  secara profesional, maka ummat Islam akan meraih kemajuan yang luar biasa. Namun sayangnya, dari kelima  misi Islam tersebut, oleh sementara kaum muslimin,  baru  ditangkap  pada aspek ritualnya. Sedangkan aspek lainnya belum dipandang sepenuhnya sebagai bagian dari Islam. Oleh karena itu, menjadi wajar manakala selama ini, ummat Islam masih  belum meraih kemajuan sebagaimana yang selama ini diharapkan. Sebab,  Islam baru dipandang sebagai kegiatan ritual belaka.
Oleh karena itu, agar Islam menjadi kekuatan untuk membangun karakter bangsa secara utuh,  maka ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad harus dipahami secara utuh pula. Islam harus dipahami  sebagai ajaran yang setidaknya, membawa kelima  misi besar sebagaimana dikemukakan di muka. Islam semestinya tidak saja dipahami sebagai agama, melainkan juga sebagai konsep tentang peradaban unggul. Konsep tersebut harus diperkenalkan melalui pendidikan secara terus menerus, agar ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., benar-benar  menjadi kekuatan untuk membangun karakter bangsa secara sempurna, dan tidak lagi dipahami  hanya sebagiannya saja,  sebagaimana yang kebanyakan terjadi selama  ini.

PERSEMBAHAN PURNAWIDYA



Terima Kasih Guruku

Oleh : Yaskin Harianto





Dari sebuah penghujung yang kunanti

Diakhir sebuah studi

Dan tibalah saat yang pasti

Studiku yang usai



Tampak rona wajah-wajah berseri

Tak terpupus dalam sanubari

Engkaulah guru-guru sejati

Kan kuingat hingga akhir nanti



Kami tau, semuapun kan tau

Engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa

Menyinari dunia senantiasa

Hingga akhir masa

Rabu, 13 Mei 2015

MOTIVASI

MEMBANGUN KECINTAAN ANAK TERHADAP SAINS




Madiun, 10 Januari 2011
Proses tumbuh kembang anak menjadi sebuah topik yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Banyak sekali orang tua dan guru yang menaruh perhatian yang besar terhadap isu tumbuh kembang anak. Mata pelajaran sains di sekolah seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang susah dan membosankan, ditambah dengan keterbatasan fasilitas alat peraga dan kemampuan pemahaman konsep sains yang sangat terbatas baik di kalangan orang tua maupun guru, semakin lengkap sebutan bagi mata pelajaran sains sebagai sebuah momok yang harus ditakuti.
Acapkali, baik disadari ataupun tidak disadari, kita sudah mengkotak-kotakkan bagian-bagian dari kehidupan kita, dan melupakan bahwa kehidupan kita sebenarnya adalah sebuah kesatuan yang integral dan tidak terpisahkan dengan lingkungan sekitar kita. Sebagai contoh kita di sekolah mengajarkan tentang banjir dan penyebabnya, tetapi kita juga tidak membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, ketika kita naik becak, motor ataupun mobil seringkali kita membuang sampah sembarangan hanya karena kita tidak mau menyimpan sampah tersebut sementara bersama dengan kita, lalu kita juga mengajarkan tentang konservasi energi, tetapi ketika kita di rumah seringkali tidak mematikan lampu ketika tidak dibutuhkan, menyalakan pendingin ruangan pada suhu yang sangat rendah, meninggalkan TV menyala sampai kita tertidur, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman kita terhadap pengetahuan hanya sebatas dimengerti oleh akal kita tetapi kita tidak melihat itu sebagai bagian dari kehidupan kita; ilmu hanya diterima oleh akal, tetapi tidak menjadi sebuah gaya hidup.
Dari ilustrasi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya sains sangat dekat dengan kehidupan manusia, sains menjadi dasar yang tidak dapat dihindari dalam setiap aspek kehidupan manusia. “Pada dasarnya anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, itu sebabnya mengapa anak-anak sekarang lebih fasih dan lebih cepat di dalam menguasai sesuatu yang baru,” Untuk itu menjadi sangat penting bagi orang tua maupun guru untuk terus mengasah rasa ingin tahu anak karena rasa ingin tahu inilah yang dapat menjadi kunci keberhasilan untuk dapat bertahan hidup dan terus melakukan transformasi diri,”. Keterkaitan sains dan kehidupan dapat menjadi pemicu untuk menggelitik rasa ingin tahu anak, itu sebabnya mereka banyak bertanya mengapa begini dan mengapa begitu.
Rasa ingin tahu yang terus menerus dipupuk akan menumbuhkan sikap exploring attitude, sehingga sangat dimungkinkan untuk menumbuhkan kembali budaya berilmu didalam keluarga.  Tradisi untuk menyelesaikan sebuah masalah dengan berorientasi kepada keilmuan dapat kembali dimunculkan, sehingga budaya diskusi, mencoba mencari penyelesaian terhadap suatu masalah dan memanfaatkan keilmuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan  yang muncul dapat menggantikan tradisi menyalahkan segala sesuatu atas permasalahan yang terjadi, kebiasaan menggunakan perasaan atau intuisi di dalam menyelesaikan persoalan, maupun kebiasaan melakukan praduga yang tidak didasari oleh fakta.
Selain itu usaha untuk memasyarakatkan sains ini juga ditempuh dengan memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak-anak untuk melakukan eksplorasi terhadap hal-hal yang baru, termasuk di dalamnya dengan memberikan dorongan dan motivasi kepada anak-anak ini untuk dapat ikut serta di dalam kegiatan-kegiatan yang positif seperti sebuah kompetisi misalnya. Komik Sains Kuark secara aktif mengadakan kompetisi sains nasional yang didesain bersifat terbuka bagi semua siswa SD/MI tanpa harus menempati posisi atau rangking tertentu, untuk memfasilitasi minat dan sekaligus membangun semangat dan keberanian untuk berkompetisi di kalangan anak-anak sejak usia dini. Mentalitas berkompetisi akan sangat membantu anak-anak di dalam proses survival dan juga akan banyak mengajarkan kepada mereka arti kemenangan dan kekalahan sejak usia dini, namun tentu saja pendampingan orang tua ataupun guru sangat dibutuhkan. Sejauh ini yang muncul argumentasinya adalah bagi pendidikan yang keberadaannya di wilayah pinggiran tentu akan lain cara pemikirannya. Hal ini orang tua lebih dominan teacher center basic.

EDUCATION

Kemampuan Membaca Sebagai Modal Keberhasilan

Kemauan dan kemampuuan membaca sedemikian penting dalam hidup ini. Orang yang pintar membaca  biasanya  akan mendapatkan kesuksesan. Sebaliknya, orang yang  selalu gagal dalam usahanya,  banyak disebabakan oleh kesalahan atau kelemahan dalam membaca.  Oleh karena itu,  kemampuan membaca menjadi sangat penting bagi siapa saja yang ingin sukses.
Masih terkait dengan hal tersebut,  para pebisnis  sukses biasanya  karena yang  bersangkutan pintar  membaca peluang-peluang usahanya. Seseorang jangan berharap sukses kalau ia tidak mampu membaca keadaan. Sebagai contoh kecil, banyak kita saksikan pengembang perumahan bangkrut, oleh karena salah membaca dan  memilih lokasi. Bentuk bangunan yang didirikan adalah bagus. Akan tetapi karena ia  salah dalam menghitung selera pasar, maka rumah-rumah yang dipasarkan tidak ada yang membeli. Akhirnya bangkrut.
Selain itu, akhir-akhir ini banyak  kita saksikan  rumah-rumah di pinggir jalan besar dijual,  lalu dibangun ruko atau rumah toko. Sebagian di antaranya cepat laku, tetapi banyak lainnya  tidak ada yang membeli.  Para pembeli yang cerdas dan pintar membaca lokasi yang tepat untuk bisnis, maka akan mengambil ruko yang sekiranya cocok untuk usaha. Sekalipun lebih mahal, ruko tertentu dibeli dan sebaliknya yang  lainnya,  walaupun murah tidak ditawar, karena tidak menguntungkan untuk bisnis apapun.
Melihat kenyataan itu, maka sebenarnya terdapat orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan membaca secara tepat. Contoh  dalam bisnis ini juga sama dalam bidang-bidang lainnya.   Ada  sementara orang yang pintar membaca  politik, hukum, pendidikan, sosial keagamaan, dan lain-lain. Orang-orang yang pintar membaca bidang-bidang tertentu akan mendapatkan keuntungan atau kemenangan. Begitru pula sebaliknya,  seseorang akan mengalami kerugian atau kalah,  oleh karena yang bersangkutan  tidak mampu membaca keadaan.
Kemampuan membaca ternyata tidak selalu dimiliki oleh setiap orang. Ada kalanya seseorang memiliki  bakat dan kemudian dikembangkan. Akan tetapi kemampuan  membaca bisa didapatkan dari berlatih. Seseorang mahasiswa yang belajar penelitian, pada hakekatnya adalah belajar membaca. Begitu pula, seseorang yang menempuh pendidikan di tingkat sarjana dan apalagi pascasarjana, diharuskan menulis karya ilmiah dari hasil penelitian.  Kegiatan  itu pada hakekatnya adalah melatih yang bersangkutan  agar mereka mampu membaca.
Betapa pentingnya kegiatan membaca itu dilakukan, hingga  ayat al Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca. Begitu pula, misi rasulullah yang disebutkan pertama kali adalah melakukan tilawah, yang artinya juga membaca. Namun kegiatan membaca itu harus dilakukan secara benar. Oleh karena itu, di dalam rangkaian ayat tersebut disebutkan bahwa dalam membaca  seharusnya dilakukan dengan mengatas-namakan Tuhan. Artinya dalam kegiatan membaca itu harus didasarkan pada niat yang benar,  dilakukan dengan cara dan maksud  yang benar pula.
Dalam kehidupan ini banyak kita saksikan orang-orang yang meraih sukses dan juga sebaliknya, yaitu orang-orang yang selalu gagal.  Keberhasilan itu  biasanya diraih oleh orang-orang yang pintar membaca. Para pengusaha besar dan sukses, ternyata mereka memang  pintar  membaca peluang-peluang usaha. Demikian pula, orang yang sukses di bidang politik, ternyata mereka memiliki ketajaman dalam melihat di bidang itu. Sudah barang tentu,  para tokoh-tokoh  yang memiliki pengaruh dan  prestasi besar adalah oleh karena yang bersangkutan berhasil  membaca peluang dan kekuatan-kekuatan  yang selalu terjadi, berkembang, dan berubah.
Lembaga pendidikan, apapun jenis dan tingkatannya mestinya digunakan untuk melatih peserta didiknya agar memiliki kemampuan dan ketajaman dalam membaca itu. Namun  sayangnya, berbagai bidang studi atau pelajaran yang diberikan kepada peserta didik,  tidak selalu diorientasikan untuk melatih membaca, melainkan hanya  sekedar agar yang bersangkutan mengenali mata pelajaran atau mata kuliah yang dipelajarinya.

Dalam kenyataan sehari-hari, para siswa atau mahasiswa  diajari ilmu-ilmu dasar seperti fisika, biologi, kimia, psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain. Namun setelah lulus ternyata yang bersangkutan belum bisa menggunakannya sebagai alat untuk membaca. Mata pelajaran tersebut akhirnya hanya menjadi beban.  Lebih aneh lagi, setelah lulus mata pelajaran tersebut segera dilupakan. Sehingga   seolah-olah,mata pelajaran tersebut tidak ada gunanya. Padahal  semua itu seharusnya digunakan untuk mempertajam kemampuan membaca bidangnya masing-masing,  agar mereka sukses dalam menjalani hidupnya.