MEMBANGUN KECINTAAN ANAK TERHADAP SAINS
|
Madiun, 10 Januari 2011
Proses tumbuh kembang
anak menjadi sebuah topik yang selalu menarik untuk diperbincangkan.
Banyak sekali orang tua dan guru yang menaruh perhatian yang besar
terhadap isu tumbuh kembang anak. Mata pelajaran sains di sekolah
seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang susah dan membosankan,
ditambah dengan keterbatasan fasilitas alat peraga dan kemampuan
pemahaman konsep sains yang sangat terbatas baik di kalangan orang tua
maupun guru, semakin lengkap sebutan bagi mata pelajaran sains
sebagai sebuah momok yang harus ditakuti.
Acapkali, baik
disadari ataupun tidak disadari, kita sudah mengkotak-kotakkan
bagian-bagian dari kehidupan kita, dan melupakan bahwa kehidupan kita
sebenarnya adalah sebuah kesatuan yang integral dan tidak terpisahkan
dengan lingkungan sekitar kita. Sebagai contoh kita di sekolah
mengajarkan tentang banjir dan penyebabnya, tetapi kita juga tidak
membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, ketika kita naik
becak, motor ataupun mobil seringkali kita membuang sampah sembarangan
hanya karena kita tidak mau menyimpan sampah tersebut sementara
bersama dengan kita, lalu kita juga mengajarkan tentang konservasi
energi, tetapi ketika kita di rumah seringkali tidak mematikan lampu
ketika tidak dibutuhkan, menyalakan pendingin ruangan pada suhu yang
sangat rendah, meninggalkan TV menyala sampai kita tertidur, dan lain
sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman kita terhadap
pengetahuan hanya sebatas dimengerti oleh akal kita tetapi kita tidak
melihat itu sebagai bagian dari kehidupan kita; ilmu hanya diterima
oleh akal, tetapi tidak menjadi sebuah gaya hidup.
Dari ilustrasi di
atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya sains sangat dekat
dengan kehidupan manusia, sains menjadi dasar yang tidak dapat
dihindari dalam setiap aspek kehidupan manusia. “Pada dasarnya
anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, itu sebabnya
mengapa anak-anak sekarang lebih fasih dan lebih cepat di dalam
menguasai sesuatu yang baru,” Untuk itu menjadi sangat penting bagi
orang tua maupun guru untuk terus mengasah rasa ingin tahu anak karena
rasa ingin tahu inilah yang dapat menjadi kunci keberhasilan untuk
dapat bertahan hidup dan terus melakukan transformasi diri,”.
Keterkaitan sains dan kehidupan dapat menjadi pemicu untuk menggelitik
rasa ingin tahu anak, itu sebabnya mereka banyak bertanya mengapa
begini dan mengapa begitu.
Rasa ingin tahu yang terus menerus dipupuk akan menumbuhkan sikap exploring attitude,
sehingga sangat dimungkinkan untuk menumbuhkan kembali budaya berilmu
didalam keluarga. Tradisi untuk menyelesaikan sebuah masalah dengan
berorientasi kepada keilmuan dapat kembali dimunculkan, sehingga
budaya diskusi, mencoba mencari penyelesaian terhadap suatu masalah
dan memanfaatkan keilmuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
muncul dapat menggantikan tradisi menyalahkan segala sesuatu atas
permasalahan yang terjadi, kebiasaan menggunakan perasaan atau intuisi
di dalam menyelesaikan persoalan, maupun kebiasaan melakukan praduga
yang tidak didasari oleh fakta.
Selain itu usaha untuk
memasyarakatkan sains ini juga ditempuh dengan memberikan ruang gerak
yang cukup bagi anak-anak untuk melakukan eksplorasi terhadap hal-hal
yang baru, termasuk di dalamnya dengan memberikan dorongan dan
motivasi kepada anak-anak ini untuk dapat ikut serta di dalam
kegiatan-kegiatan yang positif seperti sebuah kompetisi misalnya.
Komik Sains Kuark secara aktif mengadakan kompetisi sains nasional
yang didesain bersifat terbuka bagi semua siswa SD/MI tanpa harus
menempati posisi atau rangking tertentu, untuk memfasilitasi minat dan
sekaligus membangun semangat dan keberanian untuk berkompetisi di
kalangan anak-anak sejak usia dini. Mentalitas berkompetisi akan
sangat membantu anak-anak di dalam proses survival
dan juga akan banyak mengajarkan kepada mereka arti kemenangan dan
kekalahan sejak usia dini, namun tentu saja pendampingan orang tua
ataupun guru sangat dibutuhkan. Sejauh ini yang muncul argumentasinya
adalah bagi pendidikan yang keberadaannya di wilayah pinggiran tentu
akan lain cara pemikirannya. Hal ini orang tua lebih dominan teacher center basic.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar