Rabu, 13 Mei 2015

MOTIVASI

MEMBANGUN KECINTAAN ANAK TERHADAP SAINS




Madiun, 10 Januari 2011
Proses tumbuh kembang anak menjadi sebuah topik yang selalu menarik untuk diperbincangkan. Banyak sekali orang tua dan guru yang menaruh perhatian yang besar terhadap isu tumbuh kembang anak. Mata pelajaran sains di sekolah seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang susah dan membosankan, ditambah dengan keterbatasan fasilitas alat peraga dan kemampuan pemahaman konsep sains yang sangat terbatas baik di kalangan orang tua maupun guru, semakin lengkap sebutan bagi mata pelajaran sains sebagai sebuah momok yang harus ditakuti.
Acapkali, baik disadari ataupun tidak disadari, kita sudah mengkotak-kotakkan bagian-bagian dari kehidupan kita, dan melupakan bahwa kehidupan kita sebenarnya adalah sebuah kesatuan yang integral dan tidak terpisahkan dengan lingkungan sekitar kita. Sebagai contoh kita di sekolah mengajarkan tentang banjir dan penyebabnya, tetapi kita juga tidak membangun kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, ketika kita naik becak, motor ataupun mobil seringkali kita membuang sampah sembarangan hanya karena kita tidak mau menyimpan sampah tersebut sementara bersama dengan kita, lalu kita juga mengajarkan tentang konservasi energi, tetapi ketika kita di rumah seringkali tidak mematikan lampu ketika tidak dibutuhkan, menyalakan pendingin ruangan pada suhu yang sangat rendah, meninggalkan TV menyala sampai kita tertidur, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman kita terhadap pengetahuan hanya sebatas dimengerti oleh akal kita tetapi kita tidak melihat itu sebagai bagian dari kehidupan kita; ilmu hanya diterima oleh akal, tetapi tidak menjadi sebuah gaya hidup.
Dari ilustrasi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya sains sangat dekat dengan kehidupan manusia, sains menjadi dasar yang tidak dapat dihindari dalam setiap aspek kehidupan manusia. “Pada dasarnya anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, itu sebabnya mengapa anak-anak sekarang lebih fasih dan lebih cepat di dalam menguasai sesuatu yang baru,” Untuk itu menjadi sangat penting bagi orang tua maupun guru untuk terus mengasah rasa ingin tahu anak karena rasa ingin tahu inilah yang dapat menjadi kunci keberhasilan untuk dapat bertahan hidup dan terus melakukan transformasi diri,”. Keterkaitan sains dan kehidupan dapat menjadi pemicu untuk menggelitik rasa ingin tahu anak, itu sebabnya mereka banyak bertanya mengapa begini dan mengapa begitu.
Rasa ingin tahu yang terus menerus dipupuk akan menumbuhkan sikap exploring attitude, sehingga sangat dimungkinkan untuk menumbuhkan kembali budaya berilmu didalam keluarga.  Tradisi untuk menyelesaikan sebuah masalah dengan berorientasi kepada keilmuan dapat kembali dimunculkan, sehingga budaya diskusi, mencoba mencari penyelesaian terhadap suatu masalah dan memanfaatkan keilmuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan  yang muncul dapat menggantikan tradisi menyalahkan segala sesuatu atas permasalahan yang terjadi, kebiasaan menggunakan perasaan atau intuisi di dalam menyelesaikan persoalan, maupun kebiasaan melakukan praduga yang tidak didasari oleh fakta.
Selain itu usaha untuk memasyarakatkan sains ini juga ditempuh dengan memberikan ruang gerak yang cukup bagi anak-anak untuk melakukan eksplorasi terhadap hal-hal yang baru, termasuk di dalamnya dengan memberikan dorongan dan motivasi kepada anak-anak ini untuk dapat ikut serta di dalam kegiatan-kegiatan yang positif seperti sebuah kompetisi misalnya. Komik Sains Kuark secara aktif mengadakan kompetisi sains nasional yang didesain bersifat terbuka bagi semua siswa SD/MI tanpa harus menempati posisi atau rangking tertentu, untuk memfasilitasi minat dan sekaligus membangun semangat dan keberanian untuk berkompetisi di kalangan anak-anak sejak usia dini. Mentalitas berkompetisi akan sangat membantu anak-anak di dalam proses survival dan juga akan banyak mengajarkan kepada mereka arti kemenangan dan kekalahan sejak usia dini, namun tentu saja pendampingan orang tua ataupun guru sangat dibutuhkan. Sejauh ini yang muncul argumentasinya adalah bagi pendidikan yang keberadaannya di wilayah pinggiran tentu akan lain cara pemikirannya. Hal ini orang tua lebih dominan teacher center basic.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar