Kemampuan Membaca Sebagai Modal Keberhasilan
Kemauan dan kemampuuan membaca sedemikian penting dalam
hidup ini. Orang yang pintar membaca biasanya akan mendapatkan
kesuksesan. Sebaliknya, orang yang selalu gagal dalam usahanya,
banyak disebabakan oleh kesalahan atau kelemahan dalam membaca. Oleh
karena itu, kemampuan membaca menjadi sangat penting bagi siapa saja yang
ingin sukses.
Masih terkait dengan hal tersebut, para pebisnis
sukses biasanya karena yang bersangkutan pintar membaca
peluang-peluang usahanya. Seseorang jangan berharap sukses kalau ia tidak mampu
membaca keadaan. Sebagai contoh kecil, banyak kita saksikan pengembang perumahan
bangkrut, oleh karena salah membaca dan memilih lokasi. Bentuk bangunan
yang didirikan adalah bagus. Akan tetapi karena ia salah dalam menghitung
selera pasar, maka rumah-rumah yang dipasarkan tidak ada yang membeli. Akhirnya
bangkrut.
Selain itu, akhir-akhir ini banyak kita
saksikan rumah-rumah di pinggir jalan besar dijual, lalu dibangun
ruko atau rumah toko. Sebagian di antaranya cepat laku, tetapi banyak
lainnya tidak ada yang membeli. Para pembeli yang cerdas dan pintar
membaca lokasi yang tepat untuk bisnis, maka akan mengambil ruko yang sekiranya
cocok untuk usaha. Sekalipun lebih mahal, ruko tertentu dibeli dan sebaliknya
yang lainnya, walaupun murah tidak ditawar, karena tidak
menguntungkan untuk bisnis apapun.
Melihat kenyataan itu, maka sebenarnya terdapat orang-orang
tertentu yang memiliki kemampuan membaca secara tepat. Contoh dalam
bisnis ini juga sama dalam bidang-bidang lainnya. Ada
sementara orang yang pintar membaca politik, hukum, pendidikan, sosial
keagamaan, dan lain-lain. Orang-orang yang pintar membaca bidang-bidang
tertentu akan mendapatkan keuntungan atau kemenangan. Begitru pula
sebaliknya, seseorang akan mengalami kerugian atau kalah, oleh
karena yang bersangkutan tidak mampu membaca keadaan.
Kemampuan membaca ternyata tidak selalu dimiliki oleh
setiap orang. Ada kalanya seseorang memiliki bakat dan kemudian
dikembangkan. Akan tetapi kemampuan membaca bisa didapatkan dari
berlatih. Seseorang mahasiswa yang belajar penelitian, pada hakekatnya adalah
belajar membaca. Begitu pula, seseorang yang menempuh pendidikan di tingkat
sarjana dan apalagi pascasarjana, diharuskan menulis karya ilmiah dari hasil
penelitian. Kegiatan itu pada hakekatnya adalah melatih yang
bersangkutan agar mereka mampu membaca.
Betapa pentingnya kegiatan membaca itu dilakukan,
hingga ayat al Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah perintah
membaca. Begitu pula, misi rasulullah yang disebutkan pertama kali adalah
melakukan tilawah, yang artinya juga membaca. Namun kegiatan membaca itu harus
dilakukan secara benar. Oleh karena itu, di dalam rangkaian ayat tersebut
disebutkan bahwa dalam membaca seharusnya dilakukan dengan
mengatas-namakan Tuhan. Artinya dalam kegiatan membaca itu harus didasarkan
pada niat yang benar, dilakukan dengan cara dan maksud yang benar
pula.
Dalam kehidupan ini banyak kita saksikan orang-orang yang
meraih sukses dan juga sebaliknya, yaitu orang-orang yang selalu gagal.
Keberhasilan itu biasanya diraih oleh orang-orang yang pintar membaca.
Para pengusaha besar dan sukses, ternyata mereka memang pintar
membaca peluang-peluang usaha. Demikian pula, orang yang sukses di bidang
politik, ternyata mereka memiliki ketajaman dalam melihat di bidang itu. Sudah
barang tentu, para tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh dan
prestasi besar adalah oleh karena yang bersangkutan berhasil membaca
peluang dan kekuatan-kekuatan yang selalu terjadi, berkembang, dan
berubah.
Lembaga pendidikan, apapun jenis dan tingkatannya mestinya
digunakan untuk melatih peserta didiknya agar memiliki kemampuan dan ketajaman
dalam membaca itu. Namun sayangnya, berbagai bidang studi atau pelajaran
yang diberikan kepada peserta didik, tidak selalu diorientasikan untuk
melatih membaca, melainkan hanya sekedar agar yang bersangkutan mengenali
mata pelajaran atau mata kuliah yang dipelajarinya.
Dalam kenyataan sehari-hari, para siswa atau
mahasiswa diajari ilmu-ilmu dasar seperti fisika, biologi, kimia,
psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain. Namun setelah lulus ternyata yang
bersangkutan belum bisa menggunakannya sebagai alat untuk membaca. Mata
pelajaran tersebut akhirnya hanya menjadi beban. Lebih aneh lagi, setelah
lulus mata pelajaran tersebut segera dilupakan. Sehingga
seolah-olah,mata pelajaran tersebut tidak ada gunanya. Padahal
semua itu seharusnya digunakan untuk mempertajam kemampuan membaca
bidangnya masing-masing, agar mereka sukses dalam menjalani
hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar